Hukum Berwudhu Sebelum Tidur Untuk Wanita Haid

Sebelum tidur memang sangat di anjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu agar tidurnya lebih berkah dan berkualitas. Sebagaimana yang tertuang dalam hadist berikut ini.

berwudhu

Dari hadist Al – Bara Bin Azib Radhiyallahu’anhu Nabi SAW bersabda.

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Bukhari, no. 247; Muslim, no. 2710). Baca juga meremehkan oran lain

Hukum Berwudhu Sebelum Tidur Bagi Wanita Haid

Ada beberapa pendapat mengenai ini, beberapa diantaranya diulas lebih lanjut di bawah ini

An – Nawawi Menyebut pendapat ulama madzab Syafiiyah

أما أصحابنا فإنهم متفقون على أنه لا يستحب الوضوء للحائض

والنفساء لأن الوضوء لا يؤثر في حدثهما

فإن كانت الحائض قد انقطعت حيضتها صارت كالجنب

Para ulama mazhab kami (Syafi’iyah) sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi wanita haid. Atau nifas untuk berwudhu (sebelum tidur) karena wudhunya tidak berdampak pada statusnya. Karena ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya seperti orang junub”. (Syarh Shahih Muslim, 3/218)

Nukil keterangan al-Maziri,

قال المازري ويجري هذا الخلاف في وضوء

الحائض قبل أن تنام فمن علل بالمبيت على طهارة استحبه لها

Al-Maziri mengatakan, “Terdapat perbedaan pendapat tentang wudhunya wanita haid sebelum tidur. Bagi ulama yang memahami bahwa alasannya agar bisa tidur dalam kondisi punya thaharah, maka dia menganjurkan hal itu”.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ

أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika dalam keadaan junub dan hendak tidur. Beliau mencuci kemaluannya lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. Bukhari, no. 288).

‘Aisyah pernah ditanya oleh ‘Abdullah bin Abu Qais mengenai keadaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِى الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

أَمْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ

.رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ

قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ فِى الأَمْرِ سَعَةً

“Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dalam keadaan junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab, “Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi, lalu tidur. Kadang pula beliau wudhu, barulah tidur”. ‘Abdullah bin Abu Qais berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan segala urusan begitu lapang.” (HR. Muslim, no. 307).

Lantas Apakah Wanita Haid Sama Seperti Orang Junub

Mengenai hukum wudhu sebelum tidur bagi wanita haid, Al-Hafizh Ibnu Hjar menukil perkataan Ibnu Daqiq Al-led. Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa anjuran (berwudhu sebelum tidur) yang tidak berlaku pada wanita haid. Karena meskipun ia mandi, hadatsnya tidak akan hilang. (Jika masih terus keluar darah) karena hal ini berbeda dengan orang yang jinub. Meskipun jika darah haid berhenti, namun belum langsung mandi wajib maka statusnya seperti orang junub. (Fath Al-Bari 1:395).

Wanita Haid Tidak Disunnahkan Berwudhu Sebelum Tidur

Wanita yang sedang haid tidaklah di sunnahkan untuk berwudhu sebelum tidur. Kecuali jika darah haidnya sudah berhenti, Imam Nawawi dalam syarah muslim

وَأَمَّا أَصْحَابنَا فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُوْنَ عَلَى أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ الْوُضُوءُ

,لِلْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ ؛ لِأَنَّ الْوُضُوْء لَا يُؤَثِّرُ فِي حَدَثِهِمَا 

فَإِنْ كَانَتْ الْحَائِضُ قَدْ اِنْقَطَعَتْ حَيْضَتُهَا  صَارَتْ كَالْجُنُبِ وَاللهُ أَعْلَمُ 

“Adapun ashab kami, mereka sepakat bahwasanya tidak disunnahkan berwudhu bagi wanita haid dan wanita nifas. Karena berwudhu tidak berpengaruh pada hadats mereka berdua. Jika wanita haid sudah berhenti darah haidnya, maka dia seperti orang junub. Wallaahu A’lam.” (Sumber Kitab: Syarhunnawawi ‘Alaa Shahihi Muslim juz III halaman 218. Cetakan ke III tahun 1398 H – 1978 M / juz I halaman 499 / juz III halaman 218, maktabah syamilah). Baca juga repsesi pernikhan dalam islam

Disunnahkan Berwudhu Untuk Yang Junub

وَيُنْدَبُ ) لَهُ أَيْضًا ( اَلْوُضُوْءُ لِلطَّعَامِ وَالشَّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالْمَنَامِ : قَوْلُهُ اَلْوُضُوءُ لِلطَّعَامِ إلَخْ )

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ ؛ لِأَنَّهُ يُؤَثِّرُ فِي حَدَثِ الْجُنُبِ بِخِلَافِ

الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ ؛ لِأَنَّ حَدَثَهُمَا مُسْتَمِرٌّ وَلَا تَصِحُّ الطَّهَارَةُ مَعَ اسْتِمْرَارِهِ

وَهَذَا مَا دَامَتْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ فَإِذَا انْقَطَعَ الدَّمُ صَارَا

كَالْجُنُبِ يُسْتَحَبُّ لَهُمَا الْوُضُوءُ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ

“Dan bagi orang junub disunnahkan wudhu untuk makan, minum, bersenggama dan tidur. Ucapan Mushannif (Imam Ibnul Wardi): (disunnahkan) Wudhu untuk makan. Imam Nawawi berkata dalam kitab al Majmu’ : Karena berwudhu bisa berpengaruh pada hadatsnya orang junub. Berbeda dengan hadatsnya wanita haid & nifas, karena hadats keduanya tetap. Tidak sah bersuci dengan tetapnya hadats tersebut. Ini selagi wanita tersebut dalam keadaan haid atau nifas. Jika darahnya sudah berhenti maka keduanya menjadi seperti orang junub, keduanya disunnahkan wudhu disaat-saat tersebut diatas”. (Sumber Kitab: Syarh al Bahjah lisysyaikh Zakariya al Anshari (pengarang al Bahjah = Imam Ibnul Wardi. Pengarang syarh al Bahjah = Syaikhul Islam Zakariya al Anshari) juz II halaman 155, maktabah syamilah).

وَيُنْدَبُ لِلْجُنُبِ رَجُلًا كَانَ أَوْ امْرَأَةً وَلِلْحَائِضِ بَعْدَ انْقِطَاعِ حَيْضِهَا

الْوُضُوْءُ لِنَوْمٍ أَوْ أَكْلٍ أَوْ شَرْبٍ أَوْ جِمَاعٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ تَقْلِيْلًا لِلْحَدَثِ

“Disunnahkan bagi orang junub, laki-laki atau perempuan, dan bagi wanita haid setelah berhenti haidnya berwudhu. Karena mau tidur, makan, minum, jima’ dan sebagainya untuk mengecilkan (mengurangi) hadats”. (Sumber Kitab: Hasyiyah Jamal ‘alaa Syarhil Manhaj juz I halaman 166, cetakan Daar Ihya at Turats al ‘Arabi. Beirut / juz I halaman 486 / juz II halaman 96, maktabah syamilah).

Dalam Kitab Nihayatul Muhtaj :

وَمِمَّا يَحْرُمُ عَلَيْهَا الطَّهَارَةُ عَنْ الْحَدَثِ بِقَصْدِ التَّعَبُّدِ مَعَ

عِلْمِهَا بِالْحُرْمَةِ لِتَلَاعُبِهَا ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْصُوْدُ مِنْهَا

النَّظَافَةَ كَأَغْسَالِ الْحَجِّ لَمْ يُمْتَنَعْ

“Diantara perkara yang haram atas wanita haid adalah bersuci dari hadats dengan tujuan beribadah. Serta mengertinya dia akan keharamannya, hal itu karena dia TALAA’UB (mempermainkan ibadah). Jika yang dikehendaki dari bersuci itu untuk kebersihan seperti mandi haji, maka bersuci tersebut tidak dicegah”. (Sumber Kitab: Nihayatul Muhtaj Lil Imam Ar Ramli juz I halaman 330, maktabah syamilah).

Dalam Fiqh Malikiyyah:

قَوْلُهُ : [ وُضُوءٌ لِنَوْمٍ ] : فِي ( عب ) : مِثْلُهُ الْحَائِضُ بَعْدَ انْقِطَاعِ

الدَّمِ لَا قَبْلَهُ وَهَذَا عَلَى أَنَّ الْعِلَّةَ رَجَاءُ نَشَاطِهِ لِلْغُسْلِ

“Ucapan Mushannif (mushannif kitab Syarh Shaghier/ Syeikh Ahmad ibn Muhammad Ad Dardiir): Dan WUDHU untuk tidur. Didalam ‘AIN BAA`: seperti halnya orang jubub adalah wanita haid sesudah berhentinyya darah, tidak sebelumnya. Hal ini karena illatnya adalah harapan agar semangat untuk mandi”. (Sumber Kitab: Hasyiyah Ash Shawi ‘alaa Syarhishshaghier juz I halaman 300, maktabah syamilah).

Dalam Kitab al Majmu’:

,فَرْعٌ ) هَذَا الَّذِيْ ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ لَا تَصِحُّ طَهَارَةُ حَائِضٍ

,هُوَ فِيْ طَهَارَةٍ لِرَفْعِ حَدَثٍ سَوَاءٌ كَانَتْ وُضُوْءًا أَوْ غُسْلًا

وَأَمَّا الطَّهَارَةُ الْمَسْنُوْنَةُ لِلنَّظَافَةِ كَالْغُسْلِ لِلْإِحْرَامِ

وَالْوُقُوْفِ وَرَمْيِ الْجَمْرَةِ فَمَسْنُوْنَةٌ لِلْحَائِضِ بِلَا خِلَافٍ

“Cabang : Apa yang telah kami tuturkan yaitu bersucinya orang haid tidak sah, itu adalah bersuci. Dalam menghilangkan hadats, baik wudhu maupun mandi adapun bersuci yang sunnah. Karena untuk kebersihan seperti mandi untuk Ihram, wuquf dan melempar jumrah maka hukumnya sunnah untuk wanita haid tanpa ada khilaf”. (Sumber Kitab: Al Majmu’, Syarh al Muhadzdzab juz II halaman 383. Cetakan Maktabah Ial Irsyaad Jeddah /juz II halaman 349, maktabah syamilah).

Dalam Kitab Fiqhul ‘ibadat:

تَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ اَلطَّهَارَةُ بِنِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ

أَوْ نِيَّةِ الْعِبَادَةِ كَغُسْلِ الْجُمُعَةِ أَمَّا الطَّهَارَةُ الْمَسْنُوْنَةُ

لِلنَّظَافَةِ كَالْغُسْلِ لِلْإٍحْرَامِ وَغُسْلِ الْعِيْدِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأَغْسَالِ

الْمَشْرُوْعة ِاَلَّتِيْ لَا تَفْتَقِرُ إٍلَى طَهَارَةٍ فَلَا تَحْرُمُ

“Haram atas wanita hadi dan wanita nifas bersuci dengan niat menghilangkan hadats atau niat beribadah, seperti mandi Jumat.. Adapun bersuci yang disunnahkan untuk kebersihan seperti mandi untuk ihram, mandi shalat ied dan sebagainya dari mandi-mandi yang masyru’. Yang tidak membutuhkan bersuci maka tidak haram.” (Sumber Kitab: Fiqhul ‘Ibaadaat ‘alaa Madzhabisysyaafi’iyyi juz I halaman 200, maktabah syamilah).

Dalam Fiqh al-Islaam wa adillatuh:

,يَغْتَسِلُ تَنَظُّفًا، أَوْ يَتَوَضَّأُ، وَالْغُسْلُ أَفْضَلُ؛ لِأَنَّهُ أَتَّمُّ نَظَافَةً

,وَلِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اِغْتَسَلَ لِإِحْرَامِهِ

وَهُوَ لِلنَّظَافَةِ لَا لِلطَّهَارَةِ، وَلِذَا تَفْعَلُهُ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ

“(Orang yang akan melakukan Ihram agar) mandi untuk kebersihan, atau berwudhu. Mandi lebih utama, karena lebih sempurna kebersihannya, dan karena Nabi ‘alaihishshalaatu wassalaam mandi untuk ihram beliau. Mandi tersebut untuk kebersihan bukan untuk bersuci, oleh karenanya dilakukan oleh wanita haid dan wanita nifas”. (Sumber Kitab: Al Fiqhul Islaam Wa Adillatuhuu karya Dr. Wahbah Zuhayli juz III halaman 503, maktabah syamilah).