Hukum Hak Seorang Janda Selama Masa Iddah Di Dalam Islam

Setiap individu menginginkan kebahagiaan sebagai mana ayat al – qur’an tentang membahagiakan orang lain. Salah satu kebahagiaan yang dapat dicapai adalah dengan cara menikah akan tetapi membina suatu keluarga. Yang harmonis tidak lah mudah karena akan selalu munculnya berbagai masalah di dalam rumah tangga. Dan apabila masalah tersebut tidak dapat terlestarikan maka akan timbul perceraian yang menjadi salah satu jalan keluar yang terakhir. Dan dengan terjadinya perceraian akan ada masa tunggu bagi istri yang di sebut masa iddah. Dimana dalam masa iddah tersebut istri wajib mendapatkan haknya seperti hak seorang janda dalam islam.

hak Seorang Janda

Fiqh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa istri yang diceraikan dalam bentuk talak raj’i. Berhak mendapatkan hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal selama masa iddah sesuai syariat perceraian. Berdasarkan pernyataan di atas maka kajian terhadap hak seseorang janda dalam islan yang tidak menikah lagi. Menjadi menarik dan sangat penting hal ini di karenakan adanya perbedaan antara hukum islam. Dalam hak ini akan di bahas secara lengkap menurut panduan islam.

Hak Seorang Janda Dalam Islam

Hak seorang janda dalam islam atau keutamaan menyantuni janda adalah memenuhi kebutuhan makanan, tempat tinggal. Jelasnya hak janda dalam islam yang merupakan pemberian dari suami yang wajib kepada istri. Karena ikatan perkawinan yang sah besarnya hak seseorang janda dalam islam berdasarkan keadaan ekonomi suami. Dan tidak di paksakan sesuai dengan bentuk kehendakan istri. Menurut fiqh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa hak seseorang janda dalam islam. Lebih ditekankan kepada makanan (pangan), pakaian (sandang), tempat tinggal (papan) agar tercapai hidup bahagia. Namun di dalam perundang undangan di Indonesia ensensi dari hak janda dalam islam yang terkait erat. Dengan masalah uang, status sosial, cara hidup serta perubahan situs dan kondisi. Sehingga hak janda dalam islam bisa berkembang pada segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hidup yang rasional.

Hak seseorang janda dalam islam dan kewajiban istri dalam masa iddah menjadi suatu hal yang bersifat elastis dan fleksibel tergantung. Kondisi yang melingkupinya yang berupa kenyataan sosial dan perkembangan kebutuhan hidup individu. Serta konsisi rill dari kehidupan pasangan suami istri dalam perkawinan. Jadi hak seseorang janda dalam islam bisa juga berupa biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan pengobatan bagi istri.

Hak Seorang Janda Selama Masa Iddah

Hak seseorang janda selama masa indah adalah pemberian suami kepada istri, yang berupa belanja untuk keperluan hidupnya. Selama menjalani masa iddah akibat talak yang di jatuhkannya. Menurut madzhab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), hak seorang janda dalam islam iddah ialah pemberian suami. Berupa hak janda dalam islam dan tempat tinggal yang diterima istri ketika menjalani masa iddah. Jadi dapat di pahami bahwa istri berhak mendapatkan hak janda dalam islam. Dan tempat tinggal dari suaminya selama masa iddah berlangsung khususnya talak raj’i.

Hal seorang janda selama masa iddah ini yang berupa hak janda dalam islam dan maskan (tempat tinggal), Hanafi, Maliki. Dan Hambali berpendapat hak janda dalam islam yang diberikan suami. Kepada istri tidak memiliki batasan, menurut hukum syara’, tetapi lebih diukur menurut keadaan suami istri. Sedangkan syafi’i telah menentukan seorang janda dalam islam perharinya 1 mud untuk orang miskin. Satu setengah mud untuk orang yang sedang dan untuk orang kaya 2 mud tentunya hak seseorang janda. Dalam masa iddah ini sama dnegan hak janda dalam islam istri sebelum perceraian. Dengan dalih, istri yang ditalak dan dapat dirujuk oleh suaminya masih menempati posisi. Sebagai istri, dimana suami berkewajiban memberi hak janda dalam islam dan tempat tinggal.

Pendapat Madzhab Fiqh Mengenai Hak Seseorang Janda

Pendapat madzhab fiqh mengenai hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal pada masa iddah. Dalam bentuk talak raj’i atau talak bain, mempunyai persaamaan dan perbedaan di antaranya yaitu

  • Madzhab Hanafi

Madzhab hanafi yang menagtakan kewajiban hak seseorang janda dalam islam kepada istri yang di ceraikan dengan talak raj’i maupun ba’in. Ia tetap berhak atas hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal dari suaminya selama menjadi istri tersebut. Tidak meninggalkan tempat tinggal yang disediakan oleh suaminya. Dan akibat tertahannya dia pada masa iddah demi hak suami ini berlaku untuk istri yang hamil atau tidak.

  • Madzhab Maliki

Madzhab Maliki yang menyatakan bahwa istri yang diceraikan dengan bentuk talak raj’i. Berhak mendapatkan hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal. Lebih lanjut Imam Malik menyebutkan bahwa hak tempat tinggal berlaku untuk bentuk. Perceraian dengan talak raj’i ataupun ba’in selama masa iddah berdasarkan firman Allah. Dalam surat At Talak ayat 6 yaitu “tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal”. Tetapi untuk hal hak seorang janda dalam islam istri tidak mendapatkannya sama sekali. Baca juga Belajar agama tanpa guru

  • Madzhab Syafi’i

Madzhab Syafi’i membahas tentang hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal bagi istri. Yang menjalani masa iddah, bahwa hak tempat tinggal berlaku untuk umum, yaitu semua bentuk perceraian. Adapun hak seorang janda dalam islam menurut Imam Syafi’i hanya berlaku pada istri yang diceraikan. Dengan bentuk perceraian yang dimungkinkan adanya ruju’ antara pasangan suami istri yaitu talak raj’i,

Sedang dalam hal hak seseorang janda dalam islam untuk istri yang tidak hamil dan tertalak ba’in. Tidak berhak mendapatkan makanan dan pakaian dari suami, ini berdasarkan firman Allah SWT. ”jika mereka (istri istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah. Kepada mereka hak seorang janda dalam islamnya hingga mereka bersalin”. Pemahaman ayat ini menunjukan bagi ketidak wajiban pemberian hak seorang janda dalam islam bagi istri yang tidak hamil.

  • Imam Ahmad

Imam Ahmad menyatakan bahwa hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal khusus bagi istri yang diceraikan dengan talak raj’i. Sehingga istri yang diceraikan dengan talak ba’in sama sekali tidak mendapatkan hak janda dalam islam ataupun tempat tinggal. Baca juga membangunkan orang tidur

Kategori Hak yang Di Dapatkan

Semua ulama mazhab sepakat bahwa istri yang di ceraikan dalam bentuk talak raj’i berhak mendapatkan hak janda dalam islam. Dan tempat tinggal dari suaminya selama masa iddah sedangkan talak ba’in. Para ulama berpendapat yang dapat di kategorikan menajdi tiga kategori yaitu

  • Tidak berhak atas hak janda dalam islam, tetapi mendapatkan hak tempat tinggal adalah pendapat madzhab Maliki dan Syafi’i.
  • Berhak atas hak seorang janda dalam islam dan tempat tinggal adalah pendapat Madzhab Hanafi.
  • Tidak diwajibkan memberi hak janda dalam islam dan tempat tinggal adalah pendapat madzhab Hambali. Baca juga menghina orang cacat

Hak Seorang janda Menurut Islam

Kompilasi hukum Islam juga mengatur tentang pemberian hak janda dalam islam mantan suami. Kepada mantan istrinya tersebut karena talak, yaitu pada pasal 149 ayat (a) dan (b) :

Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib:

  • Memberikan harta yang layak kepada bekas istrinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas istri tersebut qobla al dukhul;
  • Memberi hak seorang janda dalam islam, maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah. Kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil.

Pemberian hak seorang janda dalam masa iddah juga tercantum pada pasal 152 yang berbunyi. Bekas istri berhak mendapat hak seorang janda dalam islam iddah dari bekas suaminya, kecuali bila ia nusyuz. Selain mendapatkan hak janda dalam islam iddah, istri yang tertalak juga mendapatkan harta. Harta adalah pemberian bekas suami kepada istri yang dijatuhi talak berupa benda atau uang dan lainnya. Hal ini didasarkan pada KHI 158: Harta wajib diberikan oleh pihak suami dengan syarat.

  • Belum ditetapkan mahar bagi istri ba’da al dukhul;
  • Perceraian itu atas kehendak suami.

Kompilasi Hukum Islam juga mengatur besarnya harta yang di atur pada pasal 160 yang berbunyi. “Besarnya harta disesuaikan dengan kepatutan dan kemampuan suami”. Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah sudah bahwa istri berhak mendapatlan hak seorang dalam islam. Ketika menjalani masa iddah dan juga harta atau pemberian, dari pihak suami yang menceraikannya. Memang wanita tetap harus mendapatkan perlindungan dan kebaikan apapun statusnya.