Hukum Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Sepengetahuannya

dalam kehidupan rumah tangga, menafkahi keluarga yang merupakan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Meskipun terkadang nafkah yang di berikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Kebutuhan hidup tersebut mungkin semakin meningkat seiring dengan jumlah tanggungan dalam keluarga.  Lantas, apakah hukum istri mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya?. Baca juga memuliakan wanita

Hukum Istri Mengambil Uang Suami

istri mengambil uang suami

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Al Baqarah, 2:233)

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ

رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَاهُ اللهُ لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَآءَاتَاهَا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya.“ (Ath Thalaq, 65:7)

Boleh Mengambil Uang Suami Tanpa Sepengetahuan Suami

Bagi seorang istri yang berstatus seorang ibu rumah tangga, gaji bulanan suami ini yang merupakan hal yang di andalkan nya. Jika terjadi suatu kondisi dimana ia terpepet akan suatu keperluan dan mendapati. Dalam dompet suaminya masih terdapat uang lebih, mungkin ia dengan terpaksa mengambilnya. Sebagian atau bahkan seluruh isinya untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Nah jadi bagaimana islam memandang hal tersebut?

Ada penggalan kisah menarik mengenai hal ini

,عن عائشة قالت: جاءت هند إلى النبي صلى الله عليه وسلم

,فقالت: يارسول الله إن أبا سفيان رجل شحيح

,لايعطيني ما يكفيني وولدي، إلا ما أخذت من ماله

.وهو لايعلم، فقال: خذي مايكفيك وولدك بالمعروف

“Aisyah RA menceritakan bahwa Hindun pernah bertanya kepada Nabi SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya Abu Sufyan suami yang pelit. Nafkah yang diberikannya kepadaku dan anakku tidak cukup sehingga aku terpaksa mengambil uang tanpa sepengetahuannya,’ kata Hindun. ‘Ambil secukupnya untuk kebutuhanmu dan anakmu,’ jawab Nabi SAW, ” (HR. Al-Bukhari, Ibnu Majah, dan lain-lain).

Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa mengambil dengan cara yang ma’ruf. Maksudnya adalah sesuai kadar yang dibutuhkan secara ‘urf (menurut kebiasaan setempat). (Fath Al-Bari, 9: 509)

Kendati ini di perbolehkan mengambil uang suami, namun tetap harus dengan cara yang baik dan ambillah seperlunya. Jangan berlebihan semendesak bagaimanapun, sebaiknya mintalah uang suami dengan cara yang baik. Dan untuk suami janganlah anda pelit terhadap istri dan anak. Ingat menafkahi istri ini merupakan kewajiban

Prioritaskanlah kebutuhan keluarga dibandingkan kebutuhan pribadi, apalagi yang sifatnya kebutuhan sekunder atau tersier. Bagi istri, janganlah bersikap boros dan menghambur-hamburkan uang untuk keinginan semata. Pahamilah kemampuan suami dalam mencari nafkah. Sekali lagi, utamakanlah keluarga.

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27)

Besarnya nafkah itu di lihat dari kemampuan suami dan kecukupan istri yaitu memandang dua belah pihak. Baca juga keramas saat haid

Disebutkan dalam ayat,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 7).

عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ

Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula).” (QS. Al-Baqarah: 236).

Dikompromikan dengan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkata pada Hindun,

خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya.” (HR. Bukhari, no. 5364).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:

  • Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan, tempat dan zaman.
  • Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rizki ataukah tidak.