Hukum Keramas Saat Haid Dan Beberapa Dalilnya

Sebagai seorang wanita tentunya kita mengalami siklus bulanan yang satu ini adalah haid bagaimana jika keramas saat haid. Haid ini merupakan ketentuan Allah kepada setiap para wanita dan sebagai wanita kita harus menerima ketentuan tersebut. Sebagaimana yang di sebutkan dalam hadist berikut.

haid

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuinya. Ketika berada di Sarif sebelum masuk ke Makkah, beliau mendapatinya sedang menangis karena datang bulan. Lalu beliau bertanya: “Kenapa, apakah kamu sedang haidh?” ‘Aisyah menjawab; “Ya”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hal ini telah di tetapkan Allah atas wanita-wanita anak Adam. Lakukanlah apa yang biasa di kerjakan dalam berhaji, namun kamu jangan thawaf di Ka’bah.”(H.R. Bukhari).

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang haid dan hukum keramas saat haid, silahkan simak berikut ini.

Pengertian Mengenai Keramas Saat Haid

Secara bahasa, kata haid yang dapat di artikan sebagai sesuatu yang sangat mengalir. Sedangkan menurut istilah syara haidh adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami. Mengalami haid atau mendapatkan darah haid adalah normal bagi setiap wanita. Justru seorang wanita akan dianggap tidak normal jika tidak mendapatkan haid. Haidh adalah darah yang keluar dan bukan disebabkan oleh adanya suatu luka, kecelakaan. Penyakit, luka, keguguran atau darah yang keluar setelah melahirkan.

Biasanya seorang wanita akan mendapatkan puber mulai usia sembilan tahun dan berhenti ketika mencapai usia lima puluh tahun. Hadi dalam islam juga menandakan seorang wanita yang telah mencapai akil baleg. Dan ia harus juga diharamkan untuk mendapatkan talak.

Haid

Meskipun demikian darah yang keluar atau periode ini wanita berbeda-beda tergantung situasi, kondisi lingkungan serta siklus tubuh wanita itu sendiri. Perkara ini disebutkan dalam Alqur’an surat Al baqarah ayat 222 yang berbunyi

 ۖوَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ

مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al Bawqarah : 222 )

Pada saat seorang wanita yang di larang melakukan ibadah seperti sholat wajib ataupun sholat sunnah. Puasa baik puasa ramadhan dan puasa sunnah,  haji, membaca Alqur’an masuk masjid dan lain sebagainya. Lumayan masa haid tergantung beberapa kondisi, para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan masa. Atau lama nya haid, ada yang berpendapat bahwa lama masa haid. Tidak terbatas selama dari masih keluar dan belum berhenti mengalir.

Ada beberapa orang yang menganggap bahwa saat sedang mengalami haidh maka seseorang tidak. Diperbolehkan untuk keramas pendapat ini didasari oleh anggapan bahwa apabila berkeramas saat haid. Dapat menyebabkan rontoknya rambut sehingga beberapa golongan tidak memperbolehkan keramas saat haid. Lalu bagaimanakah hukum dan tata cara keramas saat haid yang sebenarnya dalam islam?.

Hukum Keramas Saat Haid

Sebenarnya tidak ada yang dilarang atau dalil dengan menyebutkan larangan keramas saat haid. Apabila di anggap yang mengatakan bahwa jika keramas di khawatirkan menyebabkan hilangnya atau rontoknya rambut. Mala di dalam hadist berikut ini bahwa hukum keramas saat haid. Seorang wanita yang sedang haid bahkan dibolehkan untuk memotong rambutnya. Baca juga mahar adalah wajib

Dalil bahwa Aisyah RA menyisi rambutnya saat haji wadha

,اخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَأَهْلَلْنَا بِعُمْرَةٍ

,ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيُهِلَّ بِالْحَجِّ مَعَ الْعُمْرَةِ

ثُمَّ لا يُحِلَّ حَتَّى يُتِمَّهُمَا جَمِيعًا قَالَتْ : فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ فَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ

وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى

رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” انْقُضِي

رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَدَعِي الْعُمْرَةَ

Aisyah ra, mendapat haid saat mngikuti haji wadaa’. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Bukalah ikatan rambutmu dan sisirlah. Lalu masuklah ke dalam ihram untuk mengikuti haji”. [HR Bukhari Muslim].

Berdasarkan hadist ini dapat disimpulkan bahwa kehilangan rambut saat haid tidaklah mengapa. Menyisir rambut itu sendiri bisa menyebabkan lepasnya rambut wanita. Jika menyisir saja diperbolehkan apa lagi keramas

Dalil dibolehkannya memotong kuku, rambut kemaluan dan ketiak

النص على أن الحائض تأخذها ” انتهى يعني الظفر والعانة والإبط

Perempuan haidh boleh memotong kuku, bulu kemaluan, dan bulu ketiak.

Adapun menurut mahzab syafii, perempuan atau wanita yang sedang haidh boleh memotong kuku, rambut kemaluan serta rambut ketiak. Sehingga jika seseorang kehilangan rambutnya saat haidh tidaklah mengapa dan tidak dipermasalahkan dalam islam.

Dalil tidak adanya larangan menghilangkan kuku dan rambut

وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا

Dari ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa menyatakan: saya tidak menemukan. Dalil syar’i atas makruhnya menghilangkan rambut dan memotong kuku bagi orang junub.

Berdasarkan dalil tersebut maka jelaslah bahwa keramas saat haidh tidaklah dilarang dalam islam justru seorang wanita. Yang sedang haid dianjurkan untuk membersihkan tubuhnya meskipun ia tetap belum dapat melaksanakan ibadah sebagai mana biasanya. Baca juga ta’arif