Hukum Menceritakan Masalah Rumah Tangga Dalam Islam

Membangun rumah tangga dalam islam merupakan salah satu ibadah yang sangat di anjurkan. Pernikahan dalm islam ini menjadi sangat sunnah Rasulullah yang memberikan banyak sekali pahala sepanjang hidup. Namun setiap rumah tangga tidaklah selalu mulus, pasti ada saja masalah dalam rumah tangga. Yang terkadang menimbulkan keributan anatar suami dan istri, permasalahan yang timbuk dalam pernikahan kadang kala membuat. Kita jengkel dan sehingga menceritakan kepada teman tentang permasalah tersebut.

Menceritakan masalah rumah tangga pada teman sebenarnya di larang, hanya saja ada aturan tertentu. Yang harus di perhatiakan ketika menceirtakan masalah rumah tangga juga pernah dilakukan oleh Fatimah. Dan kali ini akan di ceritakan hukum menceritakan masalah rumah tangga.

Menceritakan Masalah Rumah Tangga Pada Teman
masalah rumah tangga

Pahala Untuk Pasangan Yang Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga Dengan Baik

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Fatimah radhiyallahu ‘anha, dan beliau tidak melihat Ali di rumah. Spontan beliau bertanya: “Di mana anak pamanmu?” ‘Tadi ada masalah dengan saya, terus dia marah kepadaku, lalu keluar. Siang ini dia tidak tidur di sampingku.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. ‘Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur’ Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke masjid. Dan ketika itu Ali sedang tidur, sementara baju atasannya jatuh di sampingnya, dan dia terkena debu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu itu, sambil mengatakan,

قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ

Bangun, wahai Abu Thurab bangun, wahai Abu Thurab”. (HR. Bukhari 441 dan Muslim 2409)

Riwayat di atas sudah jelas bahwa menghadapi masalah rumah tangga adalah sesuatu yang biasa terjadi. Namun bagi pasangan yang mampu menghadapi masalah rumah tangga dengan baik maka akan mendapatkan pahala.

Bercerita Tentang Masalah Yang Dihadapi Kepada Orang Yang Dipercaya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ

وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam. Sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya”. (HR. Bukhari 5641).

Menxeritakan permasalahan rumah tangga pada orang lain hedaknya memilih orang yang benar benar. Bisa di percaya sehingga rahasia rumah tangga pun bisa di jaga dengan sangat baik.

Allah berfirman,

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)

Tidak Bisa menceritakan Rahasia Atau Keburukan Pasangan Kepada Orang Lain

Jangan pula menyebarkan rahasia rumah tangga yang penting seperti rahasia ranjang.

Abi Sa’id al Khudri ra. menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda. “Sesungguhnya manusia yang paling buruk tempatnya disisi Allah pada hari kiamat adalah. Suami yang memberitahu rahasia kepada istrinya dan istrinya pun memberitahukan kepadanya, kemudian salah seorang dari keduanya menyebarkan rahasia pemiliknya”. (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya amanat yang paling besar disisi Allah. Pada hari kiamat adalah suami yang memberi tahu rahasia kepada istrinya. Dan istrinya memberi tahu rahasia kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim)

Jangan Mengatakan Keburukan Pasangan Kepada Orang Lain

Menceritakan masalah rumah tangga juga hendaknya dengan mengatakan kata – kata yang baik tanpa menjelek – jelekan pasangan kita.

Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.” (An-Nisa: 148)

Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan,

لَا تَقُلْ لَهَا قَوْلًا قَبِيحًا وَلَا تَشْتُمْهَا وَلَا قَبَّحَكِ اللَّهُ

“Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 6/127). Baca juga mahar adalah wajib

Allah SWT Menjadi Tempat Mengadu Yang Paling Tepat

Meskipun di perbolehkan, namaun ada baiknya untuk tidak menceritakan masalah rumah tangga sembarangan. Mengadulah hanya kepada Allah SWT.

Allah berfirman, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ” (QS Qaf: 16).

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86). Baca juga cara menghormati orang tua

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS Al Baqarah: 186]

Rasul bersabda, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “ (Hadits ini) hasan shahih.”]

Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]

Rasulullah shalawaturrabbi wa salamuh ‘alaih juga pernah bersabda:

لَا تَعْجِزُوْ فِي الدُّعَاءِ فَإِنّهُ لَنْ يَهْلِكَ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ

“Jangan kalian lemah (sedikit) dalam berdoa. Karena tidak akan binasa orang yang selalu berdoa.” [Direkam oleh Ibnu Hibban dalam Ash Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah. Ketiganya menilainya shahih. Lihat Tuhfatudz Dzakirinhal. 31]. Baca juga Berbakti kepada orang tua