Tata Cara Ketika Ingin Melangsungkan Taaruf Menurut Islam

Dalam menjalankan kehidupan rumah tangga, kunci agar rumah tangga bahagia yang paling utama adalah memiliki seorang pendamping hidup yang baik. Agar nantinya di dalam kehidupan membangun rumah tangga menjadi keluarga, dan menjadi keluarga harmonis. Dengan kata lain menjadi Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Dan karena itu sebelum memutuskan untuk menikah ada baiknya mengetahui calon pendamping nya yang sesuai syarat islam. Seperti melangsungkan Taaruf

taaruf

Terlebih dahulu untuk memilih kreteria calon istri yang baik atau suami yang baik. Agar penyebab terhalangnya jodoh tidak menghampiri, kaum musim segera meningkatkan jodoh dalam islam. Dan selalu diberikan kemudahan atas segala urusan. Islam telah mengajarkan cara yang tepat untuk pengenalan atau pendekatan. Terhadap calon pasangan dengan mencari jodoh dalam islam, yaitu dengan taaruf. Beberapa orang mengatakan bahwa taaruf merupakan gaya Pacaran Dalam Islam. Benarkah demikian? Lalu seperti apakah taaruf menurut islam itu sebenarnya?.

Definisi Melangsungkan Taaruf

Melangsungkan Taaruf ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk saling mengenal antara seseorang dengan orang yang lainnya. Dengan tujuan untuk saling mengerti dan saling memahami. Taaruf merupakan pacaran didalam islam yang juga bisa di artikan. Sebagai suatu proses yang dilakukan dengan tujuan untuk bersilaturahmi sesuai dengan syariat islam. Atau bisa juga diartikan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan si empunya rumah atau penghuninya. Jika di zaman dahulu kegiatan tersebut bisa di katakan sebagai muka untuk berkenalan. Tujuan dari silatuhrahmi atau proses perkenalan tersebut dengan cara mendapatkan jodoh yang baik. Dan di zaman sekarang ini kegiatan taaruf ini sangat jarang sekali di lakukan, kebanyakan kawula muda. Yang ingin mendapatkan dan ingin mengetahui kriteria jodoh mereka justru di lakukan dengan pacaran.

Perbedaan Ta’aruf Dan Pacaran

Ta’aruf dan pacaran adalah dua hal yang berbeda, jika dilihat dari segi tujuan dan manfaat yang didapatkan. Dalam berpacaran cara yang di lakukan untuk mengenal dan mengetahui hal – hal tentu yang dimiliki pasangan. Dilakukan dengan metode yang tidak memenuhi kriteria suatu perkenalan sama sekali.

Kebanyakan dalam pacaran hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat sehingga kebanyakan. Dari proses pacaran tersebut dapat mengantarkan seseorang ke jalan perzinahan dan masiat. Dan ini merupakan  Larangan Berpacaran Dalam Islam. Sedangkan taaruf merupakan proses yang bertujuan untuk lebih mengenal kriteria calon pasangan kita

Perempuan yang bisa di gunakan untuk menggambarkan perbedaan antara pacaran dan taaruf adalah pada saat kita ingin membeli barang. Pacaran dan taaruf adalah pada saat kita ingin membeli barang, misalnya motor. Pacaran diibaratkan membeli motor tanpa melakukan pemeriksaan mendetail guna mengetahui kondisi mesin kendaraan tersebut. Ia hanya melihat kondisi fisik, yaitu dengan memegang dan mencobanya sejenak

Sedangkan taaruf diibaratkan melakukan pemeriksaan secara detail tentang keseluruhan kondisi barang tersebut. Sehingga nantinya jika menemui kecocokan baru bisa dilakukan tawar menawar harga

Proses Melangsungkan Ta’aruf

Melakukan ta’aruf adalah untuk bersilaturami dengan maksud untuk lebih mengenal penghuni rumah. Dan tujuan dari perkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh.

Dalam sebuah hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Sanad Hasan, Rasulullah Sallalluhualaihi wassalam telah bersabda yang artinya:

Jika salah seorang diantara kalian hendak melamar seorang wanita dan mampu melihat (tanpa sepengetahuan wanita tersebut. Bagian dan anggota tubuh wanita tersebut, sehingga bisa menodorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.

  • Kesiapan Lahir Dan Batin

Taaruf hanya di lakukan oleh pria yang telah memiliki kesiapan untuk menikah sehingga melangsungkan taaruf. Yang di lakukan tidak menjadi sia – sia, dimana taaruf bisa di katakan. Sebagai suatu proses yang bertujuan untuk mengenal hal – hal yang nantinya. Dapat membuat kita tertarik atau suka sehingga timbul niat untuk segera menikahi orang tersebut. Baca juga jodoh terhalang

  • Keputusan Yang Tepat

Ta’aruf juga bisa dilakukan pada saat terjadi kesepakatan antar kedua belah pihak. Dan hanya tinggal menunggu keputusan dari sang anak apakah ia bersedia ataukah tidak untuk di lanjutkan ke jenjang khitbah. Dan kesimpulannya, taaruf dilakukan dengan mempertemukan pihak-pihak yang ingin dijodohkan dengan tujuan agar mereka bisa lebih saling mengenal. Ketika sedang melakukan taaruf, seorang pria atau wanita memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Secara detal kepada calon pasangannya, seperti kebiasaan-kebiasaan, sifat, penyakit dan lain sebagainya.

Lalu Bagaimana Tata Cara Proses Ta’aruf Yang Syar’i Menurut Islam

  • Meminta petunjuk kepada Allah dengan melakukan Shalat Istikharah
    dengan sekhusyuk-khusyuknya dan dengan niat yang tulus. Jika benar-benar hati telah mantap dan siap untuk menikah, maka segeralah mengajukan diri untuk melakukan taaruf.
  • Menentukan jadwal pertemuan antara ikhwan dan akhwat. Akan tetapi dalam pertemuan nantinya, kedua belah pihak harus didampingi oleh pihak ketiga, misalnya Keluarga atau wali yang dipercayai.
  • Dalam pertemuan antara ikhwan dan akhwat, kedua belah pihak boleh mengajukan pertanyaan apa saja terkait kepentingan masing-masing. Yang nantinya akan digunakan sebagai pertimbangan sebelum memutuskan Cara Memilih Pendamping Hidup. Dalam melakukan tanya jawab, kedua belah pihak harus tetap memperhatikan Adab Bertamu dalam Islam serta etika yang ada. Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak lebih mengenal calon pasangannya tersebut mulai dari kepribadian, fisik. Maupun latar belakang keluarga masing-masing untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Jadi dalam berta’aruf janganlah terburu-buru menjatuhkan cinta, akan tetapi dalamilah hal-hal yang yang terkait dengan calon pasangan
  • Jika dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak telah merasa saling cocok, maka dapat dilakukan proses selanjutnya yaitu melakukan taaruf. Dengan pihak keluarga si akhwat maupun dengan keluarga si ikhwan dalam waktu yang telah disepakati sebelumnya.

Taaruf

  • Yang menjadi salah satu syarat dari melangsungkan taaruf secara syar’i islami adalah tidak boleh menunggu. Artinya tidak boleh ada jarak antara melangsungkan taaruf dengan pernikahan. Misalnya saja si akhwat harus menunggu selama beberapa waktu karena si ikhwan harus bekerja atau menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu. Kondisi tersebut akan dapat mendzalimi pihak akhwat karena harus menunggu dan tidak. Ada jaminan bahwa selama waktu menunggu tersebut tidak ada godaan yang mengganggu. Jadi, setelah terjadi kesepakatan di antara keluarga, maka langkah selanjutnya adalah menentukan waktu khitbah (melamar / meminang). Proses khitbah bisa dilakukan secara langsung kepada si wanita maupun disampaikan kepada walinya.
  • Tidak ada hal yang menghalangi – halangi yang menyebabkan seorang pria dilarang. Untuk menikahi wanita yang bukan muhrim atau yang sedang dalam masa idah.
  • Wanita tersebut belum di pinang oleh orang lain secara sah, sebab hukumnya haram pada saat. Seorang laki – laki meminang perempuan yang telah di pinang saudaranya. Dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh  jamaah Rasulullah SAW.“Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya. Dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya.“
  • Dan sampai saat ini kita masih sering menjumpai tradisi dari para orang tua. Untuk mencari tanggal, bulan, dan waktu yang baik untuk menikahkan anak-anak mereka. Sebaiknya hal itu di jauhi karena akan jatuhnya ke arah syirik. Pernikahan sebaiknya di lakukan juga dengan yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Yaitu dengan cara yang sederhana, memisahkan antar tamu laki-laki dan perempuan, mengundang anak-anak yatim. Tidak mendandani pengantin dengan berlebihan, serta tidak berlebihan dalam hal menyajikan makanan maupun minuman.

Adab Ta’aruf

  • Menjaga Pandangan

Dalam suatu proses ta’aruf ini hal yang selalu di perhatikan menjaga pandangan terhadap calon pasangan.

Melihat calon pasangan boleh-boleh saja dilakukan, tetapi hanya dilakukan untuk memastikan kecocokan saja.

Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. An-Nur ayat 30-31 artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. Dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman. ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”

  • Menutup Aurat

Bagi seorang wanita muslim, apabila ia sedang bertemu dan berbincang. Dengan laki – laki yang bukan mahramnya ia harus menutup auratnya.

Dalam Q.S. An-Nur ayat 31, Allah SWT telah berfirman, yang artinya

Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa). Nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.”

  • Memiliki Sikap Yang Tenang, Sopan Dan Serius Dalam Berutur Kata

Pada saat melakukan pertemanan dengan calon pasangan, baik ikhwan maupun akhwat. Agar selalu menjaga sikap serta sopan santun dalam setiap tindakan maupun tuturan kata

Dalam Q.S Al-Adzab ayat 32 Allah SWT telah berfirman, yang artinya:

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang. Yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

  • Menghindari Hal – Hal Yang Tidak Perlu Dalam Pembicaraan

Sebaiknya dalam membicarakan suatu pada saat bertaaruf menghindari hal – hal yang tidak perlu. Dan berbincang hal – hal yang penting dan diperlukan saja.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Mukminun ayat 1-3 yang artinya:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”

  • Didampingi Oleh Keluarga Atau Wali Yang Di Percaya

Untuk melakukan pertemanan antara ikhwan dan akhwat tidak boleh di lakukan berduaan saja. Akan tetapi harus ada pendamping yang menemani dalam pertemuan tersebut. Karena dalam ajaran islam berdua – duaan dengan yang bukan mahram adalah haram hukumnya.

  • Selalu Ingat Allah

Dengan selalu ingat Allah dalam setiap perbuatan khusunya saat bertaaruf akan dapat menjaga diri dari gangguan syaitan. Yang sewaktu-waktu bisa muncul dan mengganggu manusia, sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tujuan Ta’aruf

Taaruf merupakan suatu media yang dapat memperkenalkan seseorang dengan calon pasangan lebih jauh. Dalam pengenalan tersebut, tidak hanya identitas atau data – data global dari calon pasangan yang bisa diketahui. Akan tetapi juga mencangkup hal – hal yang kecil yang di anggap cukup penting.

Misalnya saja masalah Kecantikan Wanita Dalam Islam dari calon istri, dimana islam membolehkan seorang laki-laki. Untuk melihat wajah Wanita Cantik calon istrinya secara langsung. Atau hanya sekedar dari foto, video, maupun sekedar curi-curi pandang saja. Inilah tujuan pernikahan dalam islam yang sebenarnya, untuk mencari ridho Allah agar mencapai surgaNya bersama imam yang tepat.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya:

Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila. Ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya”. Jabir berkata: “Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi. Untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.“

Manfaat Ta’aruf

Dengan melakukan ta’aruf, terdapat berbagai manfaat yang bisa didapatkan, seperti:

  • Dapat melihat keadaan fisik dari calon pasangan secara langsung. Seperti kecantikan yang ia miliki, suara dari calon pasangan, dan lain sebagainya.
  • Dapat mengenal lebih jauh calon pasangan dari data-data yang diperoleh selama proses tanya jawab saat bertaaruf. Misalnya pendidikan, pekerjaan, jenis penyakit yang dimiliki, latar belakang keluarga, dan lain sebagainya.
  • Meminimalisir terjadinya ketidak cocokan dengan calon pasangan dikemudian hari yang akhirnya berdampak pada Perceraian.
  • Bisa terhindar dari godaan syaitan karena dalam melangsungkan taaruf tidak dilakukan dengan berdua-duaan saja. Akan tetapi ada pihak ketiga yang menjadi pendamping dalam pertemuan tersebut. Baca juga cara mendidik anak menurut islam