Hukum Orang Tua Memaksa Anak Perempuannya Untuk Menikah

Pernikahan ini adalah salah satu sebagian dari ibadah dalam islam. Dengan menikah banyak sekali bentuk pahala yang di sapatkan oleh suami istri. Tapi tidak di perbolehkan juga jika oranng tua memaksa anak perempuannya untuk menikah.

Allah berfirman, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

memaksa anak menikah

Dan selain memiliki banyak sekali pahala menikah juga tentu menajdikan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi pasangan yang saling mencintai. Kehidupan berkeluarga dengan kasih sayang di dalamnya menjadi impian banyak orang.

Naamun aoa jadinya jika pernikahan tersebut merupakan paksaan? banyak sekali anak perempuan yang di paksa menikah oleh orang tuanya dengan berbagai alasan. Baca juga porongan gratis ongkir

Hukum Memaksa Anak Perempuan Menikah

Apakah hukum memaksa anak perempuan untuk menikah tanpa memikirkan perasannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan wanita perawan tidak boleh dinikahkan sehingga diminta pendapatnya.” [HR. Al-Bukhari 5136 dan Muslim 1419]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan wanita perawan, bapaknya meminta persetujuannya.” [HR. Muslim 1421.]

Dari hadist tersebut sudah sangat jelas pernikahan yang di paksa kepada anak perempuan hukumnya tidak boleh. Dan orang tua haruslah meminta izin terlebih dahulu kepada sang anak. Seorang anak perempuan yang akan menikah tidak bisa dipaksakan karena menyangkut seluruh sisa umurnya nanti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wa sallam telah bersabda.

لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

 قالوا: يا رسول الله كيف إذنها، قال أن تسكت

Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana izinnya ? ‘Beliau menjawab : ‘Ia diam”. [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Maka darikepada anak perempuan yang dipaksakan menikah oleh orang tuanya ia diperbolehkan. Untuk menolaknya dan jangan sampai hanya berdiam diri saja namun ungkapkan karena diam adalah oertanda setuju. Baca juga ragu dalam mengambil keputusan

Syaikhul Islam juga telah mengatakan,

Menikahkan anak perempuan padahal dia tidak menyukai pernikahan itu, adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip agama dan logika sehat.

Allah tidak pernah mengizinkan wali wanita untuk memaksanya dalam transaksi jual beli, kecuali dengan izinnya. Demikian pula, ortu tidak boleh memaksa anaknya untuk makan atau minum atau memakai baju, yang tidak disukai anaknya.

Maka bagaimana mungkin dia tega memaksa anaknya untuk berhubungan dan bergaul dengan lelaki yang tidak dia sukai berhubungan dengannya.

Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayang diantara pasangan suami istri. Jika pernikahan ini terjadi dengan diiringi kebencian si wanita kepada suaminya, lalu dimana ada rasa cinta dan kasih sayang??” (Majmu’ Fatawa, 32/25).

Pernah diceritakan oleh Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu, ada seorang wanita yang bercerita kepada Rasulullah mengenai pernikahan yang dipaksakan kepadanya. Ia berkata,

Ayahku memaksa aku menikah dengan keponakannya. Agar dia terkesan lebih mulia setelah menikah denganku.”

Kemudian Rasulullah memberikan keputusan urusan pernikahannya bergantung kepada ridho si wanita.

Lalu wanita tersebut berkata, “Sebenarnya aku telah merelakan apa yang dilakukan ayahku.

Hanya saja, aku ingin agar para wanita mengetahui bahwa ayah sama sekali tidak punya wewenang memaksa putrinya menikah. (HR. Ibn Majah 1874, dan dishahihkan oleh al-Wadhi’I dalam al-Shahih al-Musnad, hlm. 160).

Bukan hanya terlarang dalam isalam memaksa seseorang perempuan untuk menikah. Dengan laki – laki yang tidak diinginkan dilarang dalam hukum agama.

Sebagaimana bunyi pasal 6 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan,

“Oleh karena perkawinan mempunyai maksud agar suami dan isteri dapat membentuk keluarga. Yang kekal dan bahagia, dan sesuai pula dengan hak azasi manusia maka perkawinan harus disetujui. Oleh keuda belah pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun. 

Berdasarkan dalil dan pasal yang telah dipaparkan diatas maka hukum menikahkan anak perempuan untuk menikah tidak boleh. Pernikahan tersebut dapat dibatalkan karena tidak adanya keridhoan dari pihak perempuan. Baca juga penyebaran hoax