Diperbolehkah Wanita Memilih Calon Suami Untuk Menikah

Islam memberikan kebebasan kepada setiap perempuan untuk menentukan caon pendampingnya. Ia dapat memilih calon suami untuk menikah yang sesuai dengan keinginannya. Namun, kita juga harus kembali kepada ajaran agama kita. Menikah dalam islam ini termasuk sunnah yang paling dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Tapi bolehkan wanita memilih caon suami?.

Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat 21 yang artinya,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih saying. Seseungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21)

menikah

Ayat di atas ini yang merupakan salah satu dasar menikah di dalam islam, dan bagi yang akan menikah. Salah satu syarat pernikahan dalam islam yang harus di penuhi adalah memilih calon pasangan hidup. Yang sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan secara syar’i. Baik laki – laki maupun perempuan wanita memilih hak untuk memilih caon pasangan hidupnya. Didalam islam wanita memiliki hak penuh untuk memilih caon suami tanpa intervensi dari pihak manapun. Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda.

“Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak boleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya“. Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya?” Nabi menjawab, “Tandanya diam.” (HR. Bukhari)

Calon Suami Untuk Menikah Menurut Riwayat Lain

‘Aisyah berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seorang gadis. Yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Ya, dia dimintai izin”. ‘Aisyah berkata : Lalu saya berkata kepada beliau, “ Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika dia diam, maka itulah izinnya”. (HR. Muslim). Baca juga ruqyah

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi SAW Berdabda

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya”. Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda. “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis). Maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya”. Atau mungkin beliau bersabda : “Dan diamnya adalah persetujuannya”.(HR. Muslim)

Dari beberapa dalil yang telah disebutkan dan dapat di katakan bahwa dalam islam, seorang wanita baik gadis. Maupun janda memiliki hak penuh atas memilih calin suami bagi dirinya. Untuk seorang gadis, harus dimitai persetujuan terlebih dahulu sebelum dinikahi dengan seorang laki – laki. Misalnya jika kedua orang tua memaksa menikahi gadis dengan seseorang anak dan gadis tidak setuju atau menolaknya. Penolakan ini bukanlah bentuk kedurhakaan seorang anak terhadap orang tuanya. Baca juga doa berbakti kepada orang tua

Syeikh Islam berkata,

Tidak boleh bagi kedua orang tua memaksa anaknya untuk menikah dengan seseorang yang tidak diinginkannya, kalau misalnya. Dia tidak mengikuti keinginan orang tua, dia tidak dianggap durhaka, seperti halnya memakanan makanan yang tidak diinginkan”. (Al-Ikhtiyaraat).

Begitupun seorang janda hak seorang janda menikah dan juga berhak sepenuhnya untuk memilih calon suaminya.

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah bahwa ayahnya mengawinkannya – ketika itu ia janda – dengan laki-laki yang tidak disukainya. Kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membatalkan pernikahannya.(HR. Bukhari)

Riwayat lain menyebutkan,

Dari Ibnu Abbas : bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya hak untuk memilih. (HR. Ahmad)

Dan dengan demikian dapat di katakan bahwa seorang wanita. Dibolehkan untuk memilih calon suaminya sendiri tanpa introvensi dari pihak manapun. Meskipun perlu di pahami pula bahwa seorang wanita juga tidak bisa menikah tanpa persetujuan walinya. Karena keberadaan wali merupakan salah satu rukun nikah dalam Islam dan syarat sahnya pernikahan. Sehingga jika seorang wanita nikah tanpa wali, pernikahannya itu tidak sah. Baca juga hukum berhutang