Hukum Menghina Orang Cacat Dalam Islam Yang Harus Diketahui

Tanggal 3 Desember 2018 Indonesia turut memperingati hari penyandar Catat Internasional atau hari Difabel Internasional. Peringatan hari difabel internasional yang mulai digaungkan pada tahun 1992 ini yang bertujuan. Untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan – persoalan yang terjadi dan berkaita. Dengan kehidupan para penyandung orang cacat dan memberikan dukungan untuk mengingatkan martabat, hak, dan kesejahtraan para penyandung orang cacat.

cacat

Dalam islam penyandang cacat atau penyandang disabilitas atau dzawal ahat, dzawil ihtiyahj al khashah. Atau dzawil a’dzar adalah orang yang memiliki keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Sebelum PBB menetapkan tanggal 3 Desember sebagai hari Difabel Internasional sebagai bentuk pembelaan terhadap penyandang disabilitas. Jauh sebelumnya Islam telah  memperhatikan, membela, dan menolak tindakan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. Baca juga berzikir menggunakan tangan

Menghina Orang Cacat

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 61 yang artinya,

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ

حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا

عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ

آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ

أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ

عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ

أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ

جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا

فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula). Bagi dirimu sendiri makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki. Di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan. Dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada. (Penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya“. (QS. An-Nur : 61). Baca juga endorse dalam islam

Allah SWT juga berfirman

dalam surat ‘Abasa ayat 1 – 11 yang artinya,

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya.

Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ngin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya.

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisyi), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman).

Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat/surat) itu adalah peringatan“.(QS. ‘Abasa : 1-11)

Dalil yang di atas menunjukan betapa islam sangat memperhatikan dan menerima. Secara setara penyandang disabilitasi sebagaimana manusia normal pada umumnya. Bahkan islam sangat memprioritaskan penyandang disabilitasi dalam perspektif islam segala keterbatasan. Yang dimiliki oleh penyandang disabilitasi yang meruapakan ujian dan karena ujian tersebut. Penyandang disabilitasi memperoleh derajat yang mulia di sisi Allah SWT. Baca juga belajat agama tanpa guru

Rasulullah SAW Bersabda

“Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya. Dengan amal sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut.” (HR. Abu Dawud).

Atas dasar itulah sebagaimana yang di larang untuk mengjinda atau menyandang disabilitasi karena bisa jadi mereka lebih baik. Dan lebih mulia dimata dibandingkan dengan manusia normal lainnya. Allah SWT berfirman dalam surat al – Hujurat ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ

مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا

مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ

أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ

بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Hujurat : 11).

Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, orang yang selalu menghina atau mencela orang lain. Apalagi penyandang disabilitas termasuk dalam kelompok orang yang sombong. Sombong islam yang merupakan perbuatan yang di haramkan karena bisa jadi mereka yang dihina. Atau dicela sejatinya yang lebih mulia di sisi Allah, Rasulullah SAW bersabda.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)