Adab – Adab Untuk Menyampaikan Nasehat Yang Benar

Mungkin bisa jadi nasehat yang kita sampaikan untuk saudara seiman jauh lebih bernilai dari pada emas dan perak. Yang kita berikan untuknya sebab nasehat bisa membawa kebaikan untuk sesama. Karena nasehat bermanfaat di dunia akhirat, sedangkan emas dan perak belum tentu terpakai untuk kehidupan diakherat kelak. Akan tetapi banyak orang yang sulit untuk menerima nasehat, dikarenakan begitu seringnya nasehat yang meluncur. Tanpa sebab, padahal dalam islam kita diajarkan etika dalam menasihati saudara seiman. Sebagaimana setiap amalan memiliki adabnya masing masing.

Adab Menyampaikan Nasehat

nasehat

Niat Untuk Memperbaiki Bukan Pamer

Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sesungguhnya jauh berbeda seseorang memberikan nasehat dengan niat untuk memperbaiki sesama. Sebagai seiman sebagai cara berdakwah yang baik menurut islam, atau dengan niat ‘memperlihatkan diri’ sebagai yang lebih benar, lebih shaleh. Dan lebih berilmu jangan pernah memberi nasihat dalam kondisi merasa diri lebih baik. Dari saudara kita sebab termasuk kesombongan dalam islam. Karena akan berpengaruh pada pilihan kata yang akan kita gunakan dalam memberi nasihat. Tentu saja tidak ada manusia yang nyaman jika diberi nasihat dalam posisi salah benar. Berilah nasihat dengan memposisikan diri sama sama masih perlu belajar, insya Allah nasihat yang kita berikan akan lebih efektif.

Memberikan Nasihat Cukup Empat Mata

Banyak orang keliru dalam memberikan nasehat dan merasa paling pintar sehingga termasuk. Kedalam orang yang memahami hukum menuji diri sendiri, yaitu melakukannya dihadapan orang lain. Padahal sebaik – baik nasehat adalah yang di lakukan cukup empat mata tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan jika perlu diberitahukan secara rahasia, baik waktu maupun tempatnya:

Imam Syafii dalam syairnya menyatakan:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri, dan jauhilah memberikan nasihat di tengah tengah keramaian, Karena nasihat di tengah tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya, Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku maka janganlah engkau marah jika kata katamu tidak aku turuti

Sampaikan Nasehat Dengan Kata – Kata Lembut dan Cara Terbaik

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berteriak, memaki, merendahkan, atau memaksa bukanlah termasuk nasihat meskipun dimaksudkan untuk kebaikan. Bahkan ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasihati Fir’aun yang sombong. Dan berbuat kerusakan besar sekalipun, Ia meminta keduanya berkata lembut pada pemimpin congkak tersebut.

Sesungguhnya Allah mencintai lemah lembut dalam segala perkara.” (HR. Bukhari Muslim)

Nasehat Diri Sendiri Terlebih Dahulu Sebelum Orang Lain

Ada baiknya kita memastikan diri memperoleh hikmah dan manfaat manfaat ari nasehat. Yang kita berikan untuk orang lain, jangan sampai kita menasehati orang. Meskipun sendirinya masih berbuat buruk dan tidak menjalankan apa yang kita nasehati:

Wahai orang orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah. Dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash Shaff: 2 3)

Nasihatilah Dengan Ilmu, Bukan Nafsu

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani , semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (Q.S al Israa’ 36)

Tidak sedikit orang yang menasehati tanpa ilmu, ia hanya mengira – ngira dan berprasangka saja. Sebisa mungkin, pastikan anda memberikan nasehat sesuai dengan ilmu yang mumpuni dan pernah kita pelajari serta bisa dipertanggungjawabkan.

Tetap Sabar Dalam Memberikan Nasehat, Meskipun Nasehat Kita tidak Dituruti

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang orang yang beriman.” (Q.S adz Dzaariyaat 55)

Tidak ada alasan untuk berhenti memberikan nasehat, sekalipun yang kita sampaikan tidak pernah digubris. Apalagi disalahkan meskipun sesunggunya anda sedang memberikan hak saudara seiman untuk di nasehati. Maka jangan pernah bosan memberi nasihat dan peringatan, karena batu. Yang keras pun bisa berlubang jika terus ditetesi air, apalagi hati manusia.

Mengarapkan Ridha Allah SWT

Seorang yang ingin menasehati hendaklah meniatkan nasehatnya semata mata untuk mendapatkan ridha allah SWT.

Karena hanya dengan maksud inilah dia berhak atas pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala di samping berhak untuk diterima nasihatnya. Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap. Orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya. Maka (hakikat) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Dalam Rangka Mempermalukan Orang Yang Di Nasehati

Seorang yang hendak memberikan nasihat harus berusaha untuk tidak mempermalukan orang yang hendak dinasehati. Ini adalah musibah yang sering terjadi pada kebanyakan orang, saat dia memberikan nasehat dengan nada yang kasar. Cara seperti ini bisa berbuah buruk atau memperparah keadaan dan nasihatpun tak berbuah sebagaimana yang diharapkan. Baca juga doa iftitah

Menasehati Secara Rahasia

Nasihat disampaikan dengan terang terangan ketika hendak menasehati orang banyak. Seperti ketika menyampaikan ceramh, meskipun kadang nasehat harus disampaikan. Secara rahasia kepada seseorang yang membutuhkan penyempurnaan atas kesalahannya.

Dan umumnya seseorang hanya bisa menerimanya saat dia sendirian dan suasana hatinya yang baik. Itulah saat yang tepat untuk menasihati secara rahasia, tidak di depan publik. Sebagus apapun nasihat seseorang namun jika disampaikan di tempat yang tidak tepat dan dalam suasana hati. Yang sedang marah maka nasihat tersebut hanya bagaikan asap yang mengepul dan seketika menghilang tanpa bekas.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasihat kepada seseorang, maka mereka menasihatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasihati saudaranya berduaan saja maka itulah nasihat. Dan barangsiapa yang menasihatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasihat sampaikanlah. Secara rahasia bukan terang terangan dan dengan sindiran bukan terang terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasihati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Menasehati Dengan Lembut, Sopan, Dan Penuh Kasih

Seseorang yang hendak memberikan nasehat haruslah bersikap lembut, senditif dan beradab. Didalam menyampaikan nasehat, sesungguh menerima nasehat di perumpamaan seperti membuka pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Seseorang yang hendak di nasehati adalah seorang pemilik hari yang sedang terkunci. Dari suatu perkara, jika perkara itu yang diperintahkan Allah. Maka dia tidak melaksanakannya atau jika perkara itu termasuk larangan Allah maka ia melanggarnya.

Oleh karena itu, harus ditemukan kunci untuk membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasihat yang disampaikan. Dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

Fir’aun adalah sosok yang paling kejam dan keras di masa Nabi Musa. Namun Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar menasihatinya dengan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44)

Tidak Memaksa Kehendak

Salah satu kewajiban seseorang islam adalah menasehati seudaranya tatkala melakukan keburukan. Meskipun dia tidak berkewajiban untuk memaksanya mengikuti nasehatnya sebab itu bukanlah bagiannya.

Seorang pemberi nasihat hanyalah seseorang yang menunjukkan jalan, bukan seseorang yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakannya. Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasihat dengan mensyaratkan nasihatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Mencari Waktu Yang Tepat

Tidak setiap saat orang yang hendak dinasihati itu siap untuk menerima petuah adakalanya jiwanya. Sedang gundah, marah, sedih, atau hal lain yang membuatnya menolak nasihat tersebut. Ibnu Mas’ud pernah bertutur: “Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak”. (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih). Baca juga takdir

Minta Tolong Orang Lain Jika Merasa Kurang Mampu

Jika seseorang ternyata tak bisa menasihati dengan baik maka dianjurkan untuk diam. Dan hal itu lebih baik karena akan lebih menjaga dari perkataan perkataan yang. Akan memperburuk keadaan dan dia bisa meminta tolong temannya agar menasihati orang yang dimaksudkan.

Menggunakan Kata – Kata Yang Baik

Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang beriman. Kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarhu Al Arba’in An Nawawi memberikan beberapa faedah. Dari cuplikan hadits di atas yaitu wajibnya diam kecuali dalam kebaikan dan anjuran untuk menjaga lisan.