Hukum Ragu Ragu Dalam Mengambil Keputusan Dalam Islam

Keraguan memang sangat kerap dialami oleh setiap orang, biasanya rasa ragu mulai timbul di saat kita. Sedang menghadapi suatu malasah atau pilihan yang akan kita ambil. Dan apakah yakin dengan keputusan tersebut ataukah tidak?, atau bahkan keraguan bisa timbul di saat kita akan beramal. Jika muncul rasa keraguan itu setelah beramal maka hal itu tidak di anggap.

ragu

Karena jika seseorang telah selesai mengerjakan sesuatu amalan, maka amalan yang telah di kerjakan tersebut. Telah di lakukan dengan baik karena pastinya jika kita beramal kita mengahrapkan ridha. Dari Allah SWT jika merasa ragu itu hanyalah bisikan syaitan. Baca juga mengqadha shalat

Bagaimana Hukum Ragu – Ragu Dalam Islam

Jika keraguan itu muncul disaat atau ditengah – tengah kita ingin beramal meka hendaknya keraguan itu tidaklah di anggap. Jika dalam melakukan ibadah atau amalan dan dikondisikan tersebut kita ragu, apakah kita sudah mengerjakannya apa belum. Maka hukum dari ragu ini tersebut adalah bahwa orang tersebut belum melakukan amalan.

Untuk lebih jelasnya lagi Syaikh Muhammad bin Shâlih al ‘Utsaimîn rahimahullah. Menyebutkan dalam Manzhûmah Ushûlil-Fiqh wa Qawa’idihi pada bait ke-38 :

وَالـشَّــكُّ بَــعْـدَ الْـفِـعْـلِ لَا يُــؤَثِّــرُ

وَهَــكَـذَا إِذَا الـشُّــكُــوْكُ تَــكْـثــرُ

“Dan keraguan setelah perbuatan tidaklah berpengaruh.”

Selain itu terdapat dalil yang mendasarinya. Di antara dalil yang mendasari kaidah ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla yang berbunyi :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”  [al-Baqarah/2:286]. Baca juga terlalu mencintai dunia dan belajar agama tanpa guru

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah pada saat menafsirkan ayat ini mengatakan

“Maksud ayat ini, Allah Azza wa Jalla tidak membebani seorang pun diluar kemampuannya. Ini merupakan wujud kelembutan, kasih sayang dan kebaikan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya.”

Perkara yang berat adalah jika hamba Allah mempunyai rasa ragu di dalam dirinya. Hal ini tertuang Dalam ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ

آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita. Sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allâh.”[al Mujâdilah/58:10].

Keraguan – keraguan yang muncul dari orang yang sering merasa ragu pada hakikatnya yang berasal dari setan. Keraguan yang di rasakan oleh manusia juga merupakan salah satu jenis bisikan syetan yang mengganggu manusia. Oleh karena itu keraguan itu tidak perlu kita hiraukan, sebagaimana telah di jelaskan oleh Nabi SAW. Bahwa setan senantiasa menggoda manusia untuk berbuat tidak baik

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ اْلإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan berjalan di dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah [4]

Demikian pula, kaidah ini telah ditunjukkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih tentang. Seorang laki-laki yang merasakan sesuatu di perutnya seolah-olah laki-laki ini ia telah berhadats, sehingga ia merasa. Ragu-ragu apakah telah berhadats ataukah belum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini bersabda :

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا , أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Artinya: “Janganlah ia keluar dari shalatnya sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya, yaitu. Janganlah ia keluar dari shalatnya hanya karena yang ia rasakan itu sampai benar-benar yakin bahwa ia telah berhadats.

Dimikianlah hukum ragu ragu di dalam islam yang sering kali dapat menimbulkan kebingungan dari hati seseorang.