Hukum Wanita Menanggung Biaya Resepsi Pernikahan

Pernikahan ini merupakan bentuk cinta dari dua insan antara lelaki dan perempuan. Upacara atau resepsi pernikahan biasanya yang menjadikan  sesuatu hal. Yang sakral dikemas oleh serangkaian acara adat tertentu, resepsi pernikahan ini setidak nya membutuhkan biaya. Yang terbilang cukup besar, terlebih lagi bisa sang mempelai atau orang tuannya berasa dari kalangan menengah ke atas.

resepsi pernikahan

Pada umumnya seperti kebiasaan yang ada di Indonesia, resepsi pernikahan menjadi tanggung jawat calon suami. Hal ini juga sebagaimana yang tertuang dalam pendapat ulama berikut ini yang nantinya berkaitan dengan hukum wanita menanggung biaya resepsi pernikahan.

“Pada asalnya, pengadaan walimah adalah tanggung jawab suami. Sebagian ulama memberikan alasan mengapa menjadi tanggung jawab suami: karena sang suamilah yang berkewajiban menafkahi istri, dan kewajiban nafkah ini mencakup pelaksanaan pesta pernikahan keduanya. (Taudhihul Ahkam, 4:506)”.

Makna Resepsi Pernikahan Dalam Islam

Makna pernikahan di dalam islam ini salah satunya ialah penyatuan cinta sejati secara agama dan hukum. Dari sepasang kekasih yang saling mencintai, ini merupakan suatu jalan yang jauh lebih baik. Dan mulia dari pada berkekasih dalam hubungan tanpa status yang di sebut dengan pacaran. Demi menghindari zina dan menjaga pandangan, dengan menikah akan ada banyak keberkahan yang diperoleh suami maupun istri. Insya Allah.

Meskipun  terkadang modal atau biaya resepsi pernikahan menjadi persyaratan yang cukup memberatkan kedua belah pihak. Mulai dari biaya pencetakan undangan, sewa gedung atau tenda, dekorasi pelaminan, catering hingga make up artist yang digunakan. Terutama bagi kaum lelaki yang cenderung tidak berkemampuan cukup untuk menanggung biaya resepsi pernikahan. Sedangkan disisi lain, keluarga pihak perempuan menginginkan pesta pernikahan yang cukup mewah atau setidaknya cukup megah. Baca juga memotong rambut bayi

Lantai Bagaimanakah Hukum Wanita Menanggung Biaya Resepsi Pernikahan

Menurut Syekh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh tentang wanita yang menanggung biaya resepsi pernikahannya, beliau mengatakan,
Mungkin (diperbolehkan) karena keumuman (dalil), meskipun hukum asal walimah dilakukan oleh pihak suami (pengantin pria).” (Kumpulan Fatwa dan Risalah Syekh Muhammad bin Ibrahim Alu Syekh, 10:160).

Didalam konteks pernikahan dalam islam, sebenarnya hal yang lebih penting sebagai persyaratan ialah mahar. Yang di berikan oleh pihak lelaki kepada pihak pria, dari pada resepsi pernikahan itu sendiri yang sifatnya tidak wajib. Jika menginginkan suatu resepsi pernikahan dalam rangka sebagai syukuran. Sekaligus pengumuman pernikahan, maka adakanlah semampunya dan jangan terlalu berlebihan.

Dalam firman Allah,

وَ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَنۡفَقُوۡا لَمۡ یُسۡرِفُوۡا وَ لَمۡ یَقۡتُرُوۡا وَ کَانَ بَیۡنَ ذٰلِکَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan, 25:67)

Pernikahan memang suatu hal yang perlu dipersiapkan dengan matang. Baik dalam hal materi maupun mental. Karena pernikahan bukan hanya tentang dua orang manusia, melainkan dua keluarga yakni pihak laki-laki dan wanita. Namun, jangan sampai karena hawa nafsu yang teramat besar hingga melupakan esensi atau tujuan dari pernikahan itu sendiri.

Resepsi Pernikahan Nabi

Dalam sejumlah hadits diceritakan bahwa Rasulullah juga mengadakan walimatul urs saat menikah. Walimah Rasulullah dengan istri-istri beliau bervariasi namun semuanya dilakukan dengan sangat sederhana. Sebuah hadits sahih riwayat Bukhari menyebutkan:

أًنَّهُ صلى الله عليه وسلم أَوْلَمَ على بَعْضِ نِسَائِهِ

وَهُوَ أُمُّ سَلَمَةِ بِمُدَّيْنِ مِنْ شَعِيْرٍ وعلى صَفِيَّةَ بِتَمْرٍ وَسَمِنٍ وَأَقِطٍ

Artinya: Bahwasanya Rasulullah mengadakan walimah untuk sebagian istrinya yaitu Ummu Salamah dengan dua mud gandum (sekitar 5 kg) Dan juga kepada Sofiah dengan kurma dan samin (minyak samin) serta keju. Baca juga jodoh terhalang

Islam Menganjurkan Hidup Sederhana

Allah berfirman dalam QS Al-A’raf 7:31

وَكُلُوا۟ وَاشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.[18] Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurtubi mengomentari ayat di atas dalam Tafsir Al-Qurtubi demikian:

وكلوا واشربوا ولا تسرفوا قال ابن عباس : أحل الله في هذه الآية الأكل

والشرب ما لم يكن سرفا أو مخيلة . فأما ما تدعو الحاجة إليه,

وهو ما سد الجوعة وسكن الظمأ ، فمندوب إليه عقلا وشرعا,

لما فيه من حفظ النفس وحراسة الحواس ; ولذلك

ورد الشرع بالنهي عن الوصال ; لأنه يضعف الجسد ويميت النفس,

ويضعف عن العبادة ، وذلك يمنع منه الشرع ويدفعه العقل

Arti ringkasan: Ibnu Abbas berkata: dalam ayat ini Allah menghalalkan makan dan minum selagi tidak berlebihan.

Salah satu sebab Islam tidak menyukai umatnya yang hartawan untuk hidup mewah adalah karena pola hidup seperti itu memiliki efek buruk pada pelakunya seperti sombong, keras hati  atau sulit meneirma nasihat, pelit dan kurang atau tidak peduli pada kaum dhuafa. Dalam QS Al-Furqan 25:67 Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

Artinya:  Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.[19]

Ayat ini menurut Yusuf Qardhawi menunjukkan perintah Allah kepada umat Islam agar berpola hidup sederhana dalam membelanjakan hartanya. Dalam kitab Malamihul Mujtamak al-MuslimQaradhawi mengomentari ayat ini demikian:

إن الإسلام لا يحرم على المسلم طيبات الحياة,

كما حرمتها بعض الديانات والفلسفات، كالبرهمية الهنديه، والمانوية الفارسية,

والرواقية اليونانية، والرواقية النصرانية. إنما يحرم الاعتداء في الاستمتاع بها,

أو الإسراف في تناولها. يقول تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ

مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ). ويقول عز وجل:

(وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا).

  والفرق بين التبذير والإسراف: أن الإسراف تجاوز الحد في الحلال,

والتبذير: الإنفاق في الحرام، ولو كان درهماً واحداً.

(Islam tidak mengharamkan seorang muslim menikmati kehidupan yang layak. Islam hanya mengharamkan cara hidup yang berlebihan dalam membelanjakan harta atau dalam memperolehnya. Perbedaan antara tabdzir dan israf adalah israf berarti melebihi batas dalam membelanjakan harta yang halal sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta dalam perkara haram walau hanya satu dirham). Baca juga memuliakan wanita