Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib Dan Doanya Yang Terlengkap

Islam adalah sebuah agama yang memberikan ladang pahala pada setiap hal yang kita lakukan sehari hari. Mulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunah yang memiliki keutamaan dan nilai pahala. Serta manfaat-manfaat yang bisa kita rasakan dengan melaksanakan ibadah-ibadah tersebut. Sholat Rawatib adalah sholat sunnah yang di lakukan sebelum atau sesudah sholat lima waktu. Sholat yang dilakukan sebelumnya di sebut Qabliyah, sedangkan yang di lakukan disebut sholat Ba’diyah. Salat sunah rawatib ini terbagi dua bagian, yaitu sunah muakkad dan sunah ghairu muakkad. Salat sunah rawatib muakkad amat besar kemuliaannya dan dijanjikan ganjaran yang besar apabila menunaikannya. Salat sunat rawatib ghairu muakkad kurang sedikit kemuliaannya berbanding dengan salat sunat muakkad.

Sholat Sunnah Rawatib

Sholat Rawatib

Menurut Hadis Riwayat Muslim Nomor 728, Sabda rasulullah SAW mengenai sholat sunah rawatib ini sebagai berikut. Dari Ummu Babibah isteri nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalah, beliau berkata. Aku mendegar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda : “Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunah ikhlas. Karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya rumah di Surga”

Jenis – Jenis Sholat Sunnah Rawatib

Jika sholat sunah yang dilakukan sebelum sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “Qabliyah”. Sedangkan jika sholat sunah yang dilakukan sesudah sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “ba’diyah”. Kemudian ada dua jenis sholat rawatib yang bisa kita laksanakan sehari – hari untuk mengiringi sholat fardhu. Yaitu “sholat sunnah muakkad” dan “sholat sunnah ghairu muakkad”. Sholat sunnah rawatib “muakkad” adalah ibadah tambahan dengan kemuliaannya yang sangat besar di mata Allah SWT. Dan alam mendatangkan ganjaran/pahala yang besar jika kita menunaikannya.

Adapun pelaksanaan dari Sholat sunah muakkad ini adalah saat Qabliyah Dzuhur sebanyak dua rakaat, ba’diyah zuhur. Sebanyak dua rakaat, Ba’diyah Magrib sebanyak dua rakaat, Ba’diyah Isya’ sebanyak dua rakaat, dan Qabliyah subuh sebanyak dua rakaat. Sedangkan sholat rawatib “ghairu muakkad” adalah ibadah tambahan. Yang juga memiliki kemuliaan tersendiri meskipun tidak lebih besar dari sholat sunnah muakkad. Adapun pelaksanaan dari sholat sunah ghairu muakkad ini dikerjakan pada saat Qabliyah dzuhur sebanyak dua rakaat. Ba’diyah Dzuhur sebanyak dua rakaat qabliyah ashar sebanyak dua atau empat rakaat. Qabliyah mabrib sebanyak dua rakaat, dan qabliyah isya sebanyak dua rakaat.

Jumlah Rakaat Dalam Sholat Sunnah Rawatib

Dalam hadis Ummum Habibah ini di jelaskan bahwa sholat sunnah rawatibb adalah 12 rakaat. Yang kemudian penjelasan lebih rinci di riwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i.

Dari Aisyah radiyallahu anha ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat. Pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur. Dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah „isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi dan An-Nasa’i).

Tempat Mengerjakan Sholat Sunnah Rawatib

Sholat Sunnah rawatib yang bisa dilakukan dimana saja selama tempatnya bersih. Dan memungkinkan untuk melaksanakan sholat, namun ada anjuran khusus mengenai tempat sholat rawatib ini yang didasarkan pada hadis-hadis.

Seperti dalam hadis dari Ibnu Umar Radiyallahu’anhuma yang berkata bahwa:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)

Kemudian dalam pembahasan lain juga dijelaskan bahwa As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata:

“Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya meskipun di Mekkah dan Madinah. Sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi. Karena saat Nabi shallallahu a‟alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah.” (Syarh Riyadhus Sholihin)

Solat Sunnah Qabliyah dan Ba’diyah Dzuhur

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا

“Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelah Dzuhur.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan shalat 4 rakaat sebelum (qabliyah) Dzuhur.” (H.R. Bukhari)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّي في بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أرْبَعًا، ثُمَّ يَخْرُجُ، فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ

ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ. وَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ المَغْرِبَ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، وَيُصَلِّي بِالنَّاسِ العِشَاءِ، وَيَدْخُلُ بَيتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di rumahku sebelum shalat Dzuhur 4 rakaat, kemudian keluar (dari rumah menuju Masjid Nabawi). Kemudian shalat mengimami orang-orang, kemudian masuk lagi ke rumah dan shalat 2 rakaat (shalat ba’diyah Dzuhur). Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami orang-orang untuk shalat Maghrib. Kemudian masuk ke rumah dan shalat 2 raka’at (shalat ba’diyah Maghrib). Lalu, beliau mengimami kaum Muslimin shalat Isya’, kemudian masuk kembali ke rumahku dan shalat 2 raka’at (shalat ba’diyah Isya’).” (H.R. Muslim).

Sholat Sunnah Asar Qabliyah

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّي قَبْلَ العَصْرِ أرْبَعَ رَكَعَاتٍ، …

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat (sunnah) sebelum Ashar 4 rakaat. …” (H.R. Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرءًا صَلَّى قَبْلَ العَصْرِ أرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat (sunnah) sebelum Ashar 4 rakaat.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Sholat Sunnah Qabliyah dan Ba’diyah Magrib

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ» قال في الثَّالِثَةِ: «لِمَنْ شَاءَ»

“”Shalatlah kalian sebelum Maghrib.” Pada yang ketiga kalinya, Rasulullah bersabda, “Bagi yang mau.”” (H.R. Bukhari).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

لَقَدْ رَأيْتُ كِبَارَ أصْحَابِ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ عِندَ المَغْرِبِ

“Sungguh aku telah melihat para sahabat senior Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersegera menuju ke tiang-tiang. Masjid tatkala dikumandangkannya adzan Maghrib (yakni untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat sebelum Maghrib).” (H.R. Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga:

كُنَّا نصلِّي عَلَى عهدِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ المَغْرِبِ، فَقِيلَ

: أكَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – صَلاَّهما؟ قَالَ: كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا.

“”Kami para sahabat di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami shalat dua rakaat setelah terbenam matahari. Saat sebelum dikerjakan shalat Maghrib.” Maka ditanyakan kepada Anas: “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib?” Anas menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat kami melakukan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan kami dan tidak melarang kami.”” (H.R. Muslim)

Sholat Sunnah Qabliyah Dan Ba’diyah Isya

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلاةٌ

“Di antara adzan dan iqamah, ada shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Baca juga sholat tasbih

Sholat Sunnah Qabliyah Jumat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم الجُمُعَةَ، فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أرْبعًا

“Jika di antara kalian shalat Jumat, maka shalatlah setelahnya 4 rakaat” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ في بَيْتِهِ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak shalat setelah Jumat sampai. Beliau berpaling (pergi), dan beliau shalat dua rakaat di rumah beliau.” (H.R. Muslim)

Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib

  • Niat

Usholli Sunnatad -dzhuhri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sebelum dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Niat sholat sunnah ba’diyah (sesudah) sholat dzuhur :

Usholli Sunnatad -zhuhri rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sesudah dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala”

  • Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat ashar :

Usholli Sunnatal ashri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sebelum ashar dua raka’at , karena allah ta’ala”

  • Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat maghrib :

Usholli Sunnatal maghribi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sebelum maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat maghrib :

Usholli Sunnatal maghribi rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala

Artinya :

“Saya niat sho lat sunnah sesudah maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Niat sholat sunnah qabliyyah (sebelum) sholat isya’

Usholli Sunnatal isyaa’i rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sebelum isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat isya’ :

Usholli Sunnatal isyaa’i rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sesudah isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Niat sholat sunnah qobliyah sebelum sholat subuh :

Usholli Sunnatas – shubhi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala

Artinya :

“Saya niat sholat sunnah sebelum subuh dua raka’at, karena allah ta’ala”.

  • Mengumandangkan Takbir

Takbir adalah langkah awal pembuka dari ibadah sholat yang kita lakukan dengan mengucapkan. Kata “Allaahu Akbar” yang di kata terkahir takbir pada saat mulut kita mengucapkan “akbr”. Yang diharuskan sambil menggaungkan arti niat sholat di dalam hati.

  • Membaca Doa Iftitah

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَالْمُشْرِكِيْنَ

إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu Akbaru kabira wal hamdu lillahi kathira, wa subhanallahi bukratan wa asila. Innii wajjahtu wajhiya lillazi fatharas samaawaati wal ardha haniifa muslimaw wa maa anaa minal mushrikeen. Inna salaati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘aalameen. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

artinya:

Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan. Dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

  • Membaca surat al-Faatihah

  • Ruku’ Tuma’ninah dan sujud

Hadis pertama adalah menganjurkan pembacan surat al-kaafirun untuk raka’at pertama yang berbunyi:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢

 وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Artinya:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Q.S. al-Kaafirun)

Kemudian untuk ayat ke duanya adalah dengan membaca surat al – ikhlas

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

Artinya:

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa; 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan; 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S. al-Ikhlas)

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun dan surat Al Ikhlas.”  (HR. Muslim)

Kemudian dalam hadis dari Sa’id bin Yasar juga menjelaskan tentang anjuran membaca. Surat al-Baqarah ayat 136 pada raka’at pertama, yang berbunyi:

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ

وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ

وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦

Artinya:

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. Dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa. Dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Q.S. al-Bawarah : 136)

Sedangkan pada rakaat ke duanya dianjurkan untuk membaca surat Ali Imron ayat 52, yang berbunyi:

فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى

ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٥٢

Artinya:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Ali Imron : 52). Hal ini dijelaskan dalam hadis tersebut bahwasannya Ibnu Abbas pernah mengabarkan mengabarkan kepadanya:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca QS. Al-Baqarah ayat 136 dan dirakaat ke duanya membacaQS. Ali Imron ayat 52. (HR. Muslim). Baca juga sholat taubat