Hukum Untuk Wanita Yang Menunda Menikah Dalam Islam

Anjuran dan perintah untuk menikah bukan hanya dari Rasulullah SAW saja. Namun berasal dari perintah Allah SWT, serta didalamnya allah telah memberikan keterangan. Bahwasanya ketika seseorang menikah Allah akan memberikan kecukupan baginya. Menikah merupakan ibadah yang sangat istimewa karena menikah ini adalah jalan untuk menggenapkan separuh dari agama kita. Dalam pernikahan ini terdapat banyak keberkahan, salah satunya ialah membukakan rezeki kedua pasangan tersebut. Dan saling sayang menyanyangi antara suami dan istri dalam ikatan pernikahan yang merupakan ibadah. Dan jika anda sudah siap maka sebaiknya anda segera menikah jangan menunda menikah

menunda menikah

Meskipun terkadang pernikahan menjadikan momok yang cukup sangat menakutkan bagi sebagian kalangan. Serta ada yang beranggapan bahwa untuk mewujudkan pernikahan impian memerlukan biaya. Yang sangat besar dan pekerjaan yang mapan dan usia yang matang saja, oleh karena itu. Tidak sedikit yang kemudian berpikir untuk menunda nikah hingga merasa benar – benar siap. Baca juga mendahulukan sunnah dari pada wajib

Wanita Yang Menunda Menikah

Jika menunda pernikahan ini di lakukan oleh kaum adam, mungkin saja bisa di mengerti. Karena mereka memiliki tanggung jawab untuk menafkahi anak dan istrinya kelak. Lalu bagaimana hukum menunda menikah bagi seorang wanita?

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah). Dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. An Nuur, 24 : 32). Baca juga jual beli online dalam islam

Menikah Adalah Sunnah Rasul

Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha).

Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa nikah merupakan sunnah Rasulullah saw. dan bagi ummat-Nya yang tidak menjalankannya maka bukan termasuk ke dalam golongan Rasulullah saw.

Pacaran Mengandung Banyak Kemudharatan

Allah swt. berfirman dalam suatu ayat:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. “
(QS. Ar-Ruum, 30 : 21).

Sesungguhnya rasa kasih sayang yang sesungguhnya ini terdapat dalam hubungan pernikahan yang sah. Bukan dari hubungan tanpa status atau yang lebih di kenal dengan istilah pacaran. Sebab pacaran juga tidak ada tuntunannya dalam ajaran islam dan justru cenderung memberikan banyak kemudharatan bagi yang menjalaninya.

Hukum Menunda Menikah Bagi Wanita

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

يامعشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج؛ فإنه

أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم؛ فإن له وجاء

Wahai sekalian pemuda, apabila kalian mampu (lahir dan batin) untuk menikah, maka menikahlah. Hal tersebut akan menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, bila kalian belum mampu berpuasalah. Karena di dalam puasa tersebut terdapat pengekang” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Jadi itulah hukum menunda menikah bagi wanita yang dapat anda ketahui. Jika telah benar – benar siap, maka anda menyegerakan menikah itu lebih baik dari pada menundanya. Untuk asalan yang tidak begitu penting, dan jangan takut akan kemiskinan. Sebab Allah yang menolong setiap hambanya dari arah yang tidak di sangka – sangka. Sebagaimana dengan hadist yang tertuang sebagai berikut.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Tiga golongan; Allah pantas menolong mereka. (Di antaranya), seseorang yang menikah untuk menjaga kehormatan dirinya.” (Hadits hasan, Shahihu al Jami’, 3050).